Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, January 04, 2014

PERTAMA


Langit berwarna jingga, mentari mulai beranjak pulang. Hujan gerimis perlahan mulai mengusir orang-orang dari jalanan. Sudut kota yang sedari tadi pagi ramai kini mulai lengang. Hujan mulai deras mengguyur seluruh antera kota tua itu. Air mulai mengalir dari selokan menuju hilir. Jalanan semakin gelap tak terlihat tertutup oleh hujan. Suasana langit yang murka tampak dari petir yang menyambar. Angin bertiup kencang menyebar rasa takut. Hari makin senja dan hujan tak juga reda. Hari mulai gelap dan semakin gelap sederetan, lampu kota telah menyala. Tampak sekeruman orang berteduh pada sebuah halte yang kumuh oleh coretan dari tangan-tangan yang tidak bertanggunga jawab. Nampak dari mereka masing-masing, menyelamatkan barang bawaan dari air mata langit yang turunnya tak pernah terduga.
Waktu kian berlalu sinar lampu kota mulai terlihat jelas, langit enggan mengeluarkan air matanya lagi. Orang-orang mulai berhamburan dari tempatnya berlindung. Jalannan mulai ramai oleh oraang-orang yang hendak pulang meski, hujan masih menyiskan butiran gerimis dan air yang menggenang. Sepasang kaki mungil dari gadis yang baru mencantumkan namanya di SMA ini melangkah pergi  dari halte. Ia berjalan menyusuri jalanan yang masih basah oleh hujan dan menghilang di sebuah gang. Ia berjalan perlahan menghindari kubangan air yang dalam namun terlihat dangkal menuju rumah sederhana di ujung gang sempit itu. Gang yang hanya bisa dilalui oleh 1 sepeda motor itu, dipenuhi oleh puluhan kepala keluarga. Ya. . . .begitulah kondisi kota yang telah sesak oleh penduduk.
Gadis berwajah manis dan berambut ikal sepinggang itu bernama Dewi, ia gadis asli kelahiran kota itu. Gang tempatnya tinggal menjadi saksi bisu kehidupannya hinnga saat ini. Ia adalah seorang gadis yang terkenal baik di tempatnya. Ia adalah gadis yang tergolong pandai di sekolahnya, wajahnya yang lugu tak pernah memperlihatkan kemampuannya. Parasnya memiliki aura yang berbeda dibandingkan dengan gadis-gadis lain yang seusia dengannya. Ya. . .itulah Dewi. Mata bola dan bulu mata lentik yang dimilikinya menambah cantik parasnya.
***
Hari makin malam dan Dewi tiba di rumah sederhananya, senyum manis tercuat di wajahnya ketika membuka pintu dan melihat ibunya duduk memangku kaki di ruang tamu
“berteduh dimana kamu wi?, sudah bersihkan badanmu dan segeralah makan” tutur kata sang ibu mengiringi langkah Dewi. Ia hanya tersenyum dan mengangguk manis membalas perintah ibunya. Di belakang ia melihat ayahnya yang sedang menggebu dengan cerutunya.
“baru pulang ya. .” dengan senyum ramah ayahnya berkata padanya.
“ia” jawabnya singkat dan manis. Meski ia ada dikeluarga yang sederhana namun ia selalu merasakan kebahagian. Orang tuanya selalu memberi perhatian padanya. Meski ia terlahir sebagai anak sulung namun, orang tuannya adil memberikan perhatian. Bergegas ia melepas penat dengan guyuran air segar. Sekujur tubuhnya yang lelah telah segar kembali. Karna hari mulai gelap iapun tak mau berlama-lama bermain dengan air. Angin semilir menusuk tulang, hawa dingin yang sedari tadi menghantuinya semakin terasa dingin bersama waktu yang semakin malam. Gadis yang mulai dewasa ini menuju meja makan setelah puas dengan dinginnya air. Telah siap sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauk untuknya.
“Wi, cepat dimakan nasi yang sudah ibu siapkan. .!!” terdengar suara ibunya dari balik pintu dapur.
“iya bu” Dewi membalas ibunya. Dengan perut yang sedari tadi sudah bernyayi merdu, ia menikmati masakan ibunya itu. Lahap benar ia mengkoyak makanan di mulutnya. Kini perutnya sudah terisi penuh dengan masakan ibunya itu. Dewi beranjak dari tempatnya dan menaruh piring kotor di dapur serta membersihkannya.
***
Dewi merasa capek dengan aktifitasnya hari ini. Ia merasa sepasang kakinya tak mampu menobang berat tubuhnya. Jalannya sudah sempoyongan bak orang yang telah meneguk sebotol anggur. Dengan mata setengah terpejam ia merebahkan seluruh tubuhnya di pulau kapuk yang sedari tadi menunggunya. Jarum jam di dindingnya terus berputar, dan Dewi makin tak mampu menahan rasa kantuknya. Terlelap ia dalam istirahat malamnya, terhanyut ia pada sebuah kisah di mimpinya. bayangan bunga tidur itu menemani Dewi hingga mentari mulai kembali ke singgasana istimewanya. Sungguh terjaga tidurnya mala mini.
Malam makin larut, malam mulai berganti menjadi pagi. Hujan rintik turun dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Gerimis perlahan menjelma menjadi hujan yang cukup membuat malam semakin dingin layaknya di kutub. Petir menyambar dengan kejamnya, Dewi terbangun oleh suara pertir yang menggelegar itu. Detak jantungnya naik turun dikagetkan oleh amarah sang langitmalam ini. dengan mata yang dirasanya masih cukup berat ia menyingkap tirai jendela dan mengintip bulan. Nampaknya bulan telah bersembunyi di balik awan hitam. Petir menyambar berulang kali, melukiskan cahaya listrik di angkasa. Perlahan ia menutup tirai jendelanya dan kembali melanjutkan tidurnya. Jarum jam menunujuk angka 01:00, Dewi justru tak bisa melanjutkan mimpi indahnya. Suara petir yang menyambar menaungi pikirannya. Ia tetap berusaha memejamkan mata meski dirasa begitu berat baginya. Rasa kantuk telah sirna dari dirinya, namun ia tetap merebahkan tubuhnya sembari menunggu mentari menghapus air mata dan gejolak langit.
Sepertinya hawa dingin dan detak jarum jam yang terus berputar mampu menghipnotis Dewi, sehinnga ia telah kembali bersama mimpi indahnya. Hingga pagi menjelang ia masih telelap, suara gagah ayam tetangga tak mampu membangunkan tidurnya. Gadis kecil itu Nampak polos dengan mata terpejam. Mentari kian meninggi dan Dewi belum juga tesadar dari tidurnya. Ibunya menerobos pintu kamar yang masih tertutup rapat tanpa suara, menepuk pipi halusnya dan membuyarkan mimpi Dewi. Dengan mata yang masih seperti perangko dan amplopnya bergegas ia mengejar mentari yang belum begitu jauh.
Telah siap ia dengan segala sesuatunya, ia keluar dari rumahnya dan menyusuri jalannan ditemani sinar surya yang melintas di sela-sela pohon. Langkah kakinya yang secepat angin mengejar waktu. Matanya cepat mengamati hiruk-pikuk kota tua itu. Gerbang sekolah telah menanti kedatangannya, pintu kelas telah terbuka lebar untuknya. Ruang kelas telah penuh oleh murid yang siap menerima pelajaran, tersisa sebuah bangku
kosong di sudut depan kelas. Ya itu tempat Dewi. Waktu kian berlalu, bel telah berdering guru telah siap dengan lembaran ilmu dalam genggaman. Disaat semua siswa siap di bangkunya masing-masing terdengar langkah kaki yang beriringan bergantian mengukir sebuah nada yang melukis sebuah pertanyaan
“siapa yang bersama dengan guruku. . ???” semakin dekat dan semaki mendekat. Terlihat paras menawan dari seorang siswa baru, tinggi tubuhnya menambah daya tarik dilawan jenisnya. Mata dewi menyorot seluruh aura yang keluar dari siswa itu. Tetak jantungnya tiba-tiba tak menentu, entah bimbang atau ragu yang tertanam di benaknya. Gurunya memperkenalkan seorang siswa baru itu.
“oh. . Yoda, namanya” gumamnya dalam hati. Nafasnya menderu tak teratur seperti habis berlari ribuan kaki jaraknya. Sebah senyum terlukis di wjah manisnya.
“Yoda kamu duduk di belakang gadis itu” sembari menunjuk Dewi, untuk mempertegas perintahnya. Yoda melintasi bangku Dewi, detak jantungnya kian berpacu dengan waktu. Nampaknya gadis lugu itu sedang jatuh hati pada Yoda. Waktu tetap berlalu, seakan tak peduli pada seorang insan yang tengah menemui cinta pertamanya. Hari makin panas pelajaran telah berlalu, tak terasa bel akan berbunyi 5 menit lagi. Semua berkemas bersiap untuk beranjak pulang termasuk Dewi.
Bel berbunyi dan semua kaki berhamburan meninggalkan gedung ilmu. Dewi yang berjalan perlahan keluar dari gerbang sekolah terkagetkan oleh teguran Yoda. Nafasnya menderu, hanya senyum yang terguris di wajahnya. Hanya sejenak, Yoda berlalu meninggalkannya dan memasuki kendaraan umum.
Hingga sampai di rumah Dewi masih terbayang dengan sapaan manis dari seorang Yoda. Mentari makin turun, langit melukiskan guratan jingga, makin petang dan bayangan pohon mulai hilang. Dewi berniat untuk belajar mala mini, menambah ilmu sebelum hari esok. Lembar demi lembar materi hanya dibolak-balik saja, tak jelas dengan apa yang dilakukannya.
“ya. . Tuhan, kenapa aku tak bisa konsen K” bayangan Yoda mengusik pikirannya. Gadis lugu itu kini mulai merasakan cinta pertamanya namun, ia masih menepis perasaannya. Bayangan Yoda yang sering hinggap di angan-angannya tak begitu dianggap olehnya. Tapi yang namanya cinta, apa lagi cinta pertama pasti ada saja perasaan janggal yang menghantuinya.
***
          Hari-harinya dilalui denga kegelisahan yang tak menentu saat bertemu Yoda. Ia merasa semakin dekat dengan remaja manis itu. Hari ini langit menampakan senyumnya lebih awal, meski jarum jam masih menunjuk pukul 06:00 namun, mentari telah membumbung tinggi dengan angkuhnya. Langit cukup cerah secerah senyum Dewi pagi ini. dewi merasa siap hari ini, tak ada yang mendorong perasaannya untuk merasa bahagia. Begitu saja setiap saat hingga mungkin seminggu berlalu
          Suatu ketika, saat matanya enggan untuk terpejam meski bulan telah menegurnya untuk bermimpi, ia justru termenung menatap bintang yang jauh dan terkesan bertengger di ranting pohon. Terbesit sebuah angan dalam benaknya, ia merasa angin mala mini telah menyadarkannya, ia pun bangkin dari jeruji kegalauan yang selama ini mengurungnya.

          “untuk apa aku memikirkan orang, yang belum tentu memikirkanku” ia bergumam malam itu, dan sejak saat itu ia lebih memilih untuk menjalani hari-harinya tanpa berharap akan hal yang belum tentu mungkin ia dapatkan.

Sunday, December 29, 2013

GURATAN JINGGA



Malam telah menjelma menjadi pagi yang memaksa sang surya keluar dari sangkarnya. Pagi yang perlahan terusir oleh terik mentari mengawali kehidupan semua insan hari ini. Semua orang mulai beraktifitas diiringi naiknya sang surya.
Selaras dengan Isabel yang kini mulai beranjak dewasa seiring dengan bergantinya hari. Nampaknya waktu dan pengalaman yang dilalui telah mengajarinya arti kehidupan. Kesabaran untuk menghadapi masalah telah melekat pada dirinya. Ya ....... itulah Isabel. Kepribadian lemah lembut itu, telah membuatnya mendapatkan seseorang yang selama 3 tahun terakhir ini menemani dan menerima seluruh ungkapan hatinya.
Roda kehidupan terus berputar mengiringi waktu yang tak pernah berhenti, keduanya berjalan searah seakan mengungkap sebuah kisah. Dibalik sifat kalemnya yang amat disegani, Isabel menyimpan sejuta goresan dalam alur kehidupannya. Isabel bukanlah tipe orang yang mudah untuk mengemukakan isi hatiya, ia hanya akan bercerita kepada orang-orang yang dipercayainya. Hari-harinya dilalui dengan senyum indah yang menghiasi wajahnya. Tak pernah sedikitpun nampak goresan sendu di wajahnya. Ritme langkahnya yang selalu tegak mengelabuhi setiap mata yang melihat, semua orang pasti berfikir bahwa Isabel tak pernah punya masalah. Ya......., begitulah orang, mereka bebas berargumen sesuka hati, lagi pula tak ada yang mengenakan tarif untuk berargumen.
J J J
Sinar mentari membelai dedaunan yang basah oleh embun dan membuka tirai waktu, mengajak semua makhluk untuk beranjak dari pelabuhan malamnya. Dipagi yang cerah ini Isabel tak juga bergegas untuk beraktifitas, padahal mentari sudah menampakkan senyum sinisnya bagi mereka yang bermalas-malasan. Ia terdiam di balik jendela kamarnya yang masih basah oleh embun. Menatap bunga warna-warni di halaman membuat angan-angannya melayang jauh bersama mentari yang makin meninggi. Entah apa yang ada di benaknya namun, yang jelas suasanya pagi ini membuatnya mengulang memori yang terdahulu. Sebuah kenangan masa lampau yang baginya tak akan terlupakan itu sejenak mengisi kekosongan otaknya dan menyita seluruh waktunya dipagi ini. Tanpa ia sadari sebuah senyum manis menghiasi wajahnya yang masih terhanyut oleh rayuan angan-angan. Terpukau oleh bayangan semu yang tak tau kapan akan berakhir. Detak jarum jam di kamarnya tak sedikitpun menggoyahkan lamunannya, Isabel justru makin larut dalam imajinasi. Ditemani kicauan merdu burung pipit dipagi itu, lamunannya menyeberang jauh diantara samudra masa lalu dan membuka sebuah kisah dimasa merah putihnya. Kisahnya berawal saat ia duduk di bangku kelas dua SD, ia adalah seorang murid baru. Pada masa itu ia mulai mengenal seseorang bernama Ryan yang kini sesalu mengisi hari-harinya alias pacar J.“Awiting tresno jalaran soko kulino” mungkin kata-kata itu sesuai untuk dua sejoli ini. Ya . . . . . . bagaimana tidak ??? dua insan yang dulunya sering bertengkar layaknya Tom dan Jerry, kini menjadi sepasang hati yang saling memberi. Mungkin itu adalah bagian takdir.
Mungkin unik jika menelusuri kisah Isabel dalam romansa asmara, embtt.... mungkin mirip sineteron J. Di bangku sekolah dasar dulu tak ada kata suka di hati Isabel untuk Ryan, bahkan yang ada di hatinya pada saat itu kesal, dan benci pada Ryan. Hingga dimasa SMP mereka tak pernah terlihat akur. Suatu ketika saat pendaftaran SMP dengan tidak sengaja Ryan berada di belakang Isabel yang waktu itu sedang melihat pengumuman. Setelah melihat pengumuman Isabel berjalan mundur tanpa melihat orang yang ada di belakangnya dan tiba-tiba terdengar suara
“ati-ati kalau jalan, udah bosen jalan maju ya mbak” teriak Ryan. Isabel kemudian menoleh dan meminta maaf namun, Ryan hanya acuh tanpa melihat Isabel. Sikab jutek Ryan saat itu hinnga kini masih mengundang senyum di benak Isabel. Segores kenangan masa lalu itu tiba-tiba sirna terusir oleh kerasnya suara ibu Isabel yang meneriaki Isabel untuk segera bersiap berangkat ke sekolah. Bayangan indah yang sejenak bernaung telah pergi ke tempatnya berasal. Meski telah tersadar dari lamunannya, guratan manis dari sebuah kenangan itu masih menyisakan senyum di pipinya. Dengan keadaan hati yang tergugah oleh kenangan ia bangkit dari lamunan dan bersiap untuk melanjutkan aktifitasnya.
Gadis yang kini telah menjalani masa SMA ini, berangkat lebih siang dari biasanya. Ia mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalanan yang mulai bising oleh kendaraan bermotor. Sekitar 10 menit laju sepedanya berpadu dengan aktifitas di jalanan hingga sampai di sekolahnya yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Isabel bergegas masuk ke ruang kelas, dan siap menerima ilmu hari ini. Mata pelajaran pertama Isabel adalah matematika, dengan guru favoritnya yaitu Pak Muklis. Isabel adalah gadis yang terbilang pandai di kelasnya, dan sering mendapat pujian manis dari berbagai guru bidang studi. Mata pelajaran matematika telah berjalan 1 jam dari bel masuk, Isabel tak bisa konsentrasi dengan serius lagi. Pikirannya menjurus pada kisah masa lalu yang dikenangnya tadi pagi. Angan-angannya kembali berkelana liar, seakan sedang mencari sebuah titik kebahagiaan.
“Cinta itu seperti matematika yang rumit namun pasti”. Gumam Isabel mengagetkan Pak Muklis yang sedari tadi mengamati Isabel.
“Apa ini matematika kok disamakan dengan cinta, hayo melamun ya...” teriak Pak Muklis. Serentak semua mata yang ada di kelas itu melihat Isabel yang wajahnya mulai memerah. Dengan tersipu malu Isabel menjawab pertanyaan dari Pak Muklis dan berusaha membuyarkan tuduhan itu.
“Enggak pak . . . . .itu tadi Cuma iseng” bantah Isabel. Pak Muklis hanya tersenyum menanggapi muridnya yang satu ini.
Tak terasa jam pelajaran matematika telah berakhir, berganti dengan pelajaran kimia. Kebetulan guru mata pelajaran kimia sedang ada keperluan mendadak di luar kota sehingga Isabel dan teman sekelasnya mendapat bonus jam kosong hari ini. Namanya juga pelajar di mana-mana kalau jam kosong pasti senang, ada diantara mereka yang menuju kopsis untuk mengganjal perut, ada yang asyik dengan media sosialnya, atau ada yang sedang seru menggosip. Bertolak belakang dengan aktifitas teman-temannya Isabel justru terdiam di sudut kelas memandang detak jarum jam dengan tatapan kosong, seolah akan mengungkap rahasia besar di balik lentera waktu. Gambaran indah dalam angan-angannya kembali merasuki pikirannya. Lama ia terpasung oleh waktu yang menjebaknya untuk melanjutkan kenangan-kenangan waktu itu. Lamunannya kali ini mengundang perhatian Ani, teman baiknya. Ani merasa heran dengan sahabatnya, ia melihat senyum Isabel yang kian merekah di tengah samudra imajinasi.
 “hayyo nglamun apa kamu?? Hayo ngaku. . .” bisik Ani secara perlahan namun cukup membuyarkan lamunan Isabel. Isabel tak menjawab sepatah katapun, ia hanya melontarkan sebuah senyum untuk Ani. Nampak di pipi Isabel  sebuah senyum yang tak mampu membendung angan-angannya. Jelas hal itu semakin membuat Ani semakin penasaran. Hingga sekolahnya berakhir Isabel tak sedikitpun mengungkap lamunannya pada Ani, jika disinggung mengenai hal itu Isabel hanya tersenyum layaknya kuncup bunga yang enggan untuk mekar karena malu oleh seekor kumbang.
Seusai bel pulang berdering, Isabel bergegas untuk pulang. Ia mengayuh sepedanya lebih lambat dari biasanya, hingga sampai di rumah. Sesampainya di rumah Isabel segera menyegarkan diri dengan guyuran air wudhu, dan segera melaksanakan sholat ashar. Dengan khusyu' dan tenang ia menjalankan ibadahnya, suara bergeming yang mengitarinya sama sekali tak mampu mengusiknya. Selepas ia menjalankan sholat, ia seakan sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya hari ini.
Ia mulai memikirkan hal apa yang merasuki pikirannya sejak tadi pagi. Lama ia terdiam dan tertunduk dalam keadaan suci di tempat sholatnya, ia mulai merenungi semua lamunannya, bayangan indah mulai berganti menjadi bayangan jingga. Guratan manis kenangan asmara itu perlahan sirna diterpa angin kegalauan yang melandanya disaat hari menjelang senja. Jalan pikirannya berubah jadi tak menentu, tak jelas arah dan tujuannya. Ia merasa seperti sedang berada di sebuah tempat yang kosong. Paradigmanya seperti terperangkap dalam rimba masa lalu.
“Ya. . . . Tuhan, L apa-apaan ini, aku mengenang masa laluku yang indah namun, aku hampir saja melupakan masa depanku”. Suaranya lirih tetapi cukup menyayat hati, menjatuhkan air mata yang lama terdiam di mata indahnya. Air matanya kian berderai senada dengan isi hatinya yang tercabik-cabik.
 “Apa arti sebuah cinta yang suci dari dua sejoli, jika tidak direstui” gumamnya. Semakin deras air matanya bercucuran. Pelangi yang sedari tadi pagi mengiasi matanya telah hilang bersama waktu. Hingga malam menjelang irama sendu yang menghantui pikirannya tak juga sirna.
Bulan telah menampakkan cahaya damainya di seluruh sudut kota. Daun-daun telah berkilauan memantulkan cahaya bulan yang indah. Bunga-bunga telah menutup kuncupnya seolah ada peri yang tertidur di dalamnya. Semerbak wangi bunga malam yang khas beriringan dengan keindahan bulan malam ini. Sungguh indah suasana malam namun, tak seindah perasaan Isabel. Meski malam mulai larut, Isabel tak juga beranjak tidur. Ia terus memikirkan sebuah restu dari cinta tulus yang sama sekali belum ditemuinya. Ia merasa berat melakoni alur hidupnya jika sesekali ia teringat akan hal itu.
“Sudahlah Isabel, kamu bisa,. . biar waktu yang mengungkap semua ini” terbesit sebuah semangat pada dirinya. Meski air mata masih singgah di pipi manisnya namun, ia berusaha tersenyum. Ia berusaha tegar menghadapi masalahnya. Waktu makin berlalu jam dinding di kamarnya telah menunjuk angka 12. Sedikit ia melirik waktu di sudut kamarnya, dan beranjak pergi menemui bulan yang sedari tadi tersenyum di taman.
“Mungkinkah. . .
Hidupku ini sepertimu. . .
Bulan . . .
Kau selalu tersenyum, meski. .
Kau tak kan mungkin bersanding dengan mentari ”
Kata indah itu terlontar lirih dari mulutnya. Seberkas semangat yang mulai tumbuh, telah berubah menjadi linangan air mata. Angin yang berhembus mesra malam ini, membelainya dengan lembut dan menutup matanya secara perlahan. Isabel bangkit dan menuju kamarnya. Ia berbaring di pulau kapuknya dan memejamkan mata. Isabel berusaha menghapus angan-angan yang baginya terlalu jauh melayang. Sunyi sepi malam ini mengantarkan tidurnya.
JJJ
Tak terasa pagi sudah mengintip malu di balik gunung, sang surya mulai merangkak naik. Isabel terbangun dari tidurnya, meninggalkan mimpi yang menghampirinya. Hari telah berganti Isabel dengan cekatan memulai aktifitasnya. Sengaja ia melakukan hal yang membuatnya cukup sibuk, agar ia bisa lupa dengan apa yang terjadi padanya kemarin. Meski bulan belum sepenuhnya pergi, Isabel telah siap dengan persiapannya menyambut hari ini. Jalan pikirannya kuat menggenggam sejuta harapan bahagia dimasa depan. Bunga di hatinya makin bersemi tersiran embun pagi yang sejuk. Dengan senyum ia mengawali harinya meski, masih telihat lebam di matanya bekas air mata tadi malam.
Tertunduk ia sendiri meratapi apa yang telah terjadi. Harapan yang digenggamnya menghiasi perasaannya yang dibalut senja. Perasaannya sungguh tak menentu terkadang ia bimbang dan terkadang ia bersemangat. Hatinya seperti teriris oleh pisau belati yang setajam pedang. Seperti seekor kumbang yang tersesat di lautan mawar berduri, itulah isabel dan angan-angannya.
Suara burung merdu mulai terdengar dari balik pohon. Kicauannya seakan memberikan sebuah irama surga bagi Isabel. Ia menarik nafas panjang dan menghelanya dengan mata terpejam.
“biarkanlah waktu yang akan menjawab harapanku” kata-kata itu tertanam dalam benaknya yang sudah penuh dengan lamunan. Senyum keabadian mulai merekah indah di sudut wajahnya. Warna bunga warna-warni menghapus sendu dalam benaknya. Hujan yang menjadi gejolak di hatinya telah sirna tergerus waktu. Bayangan semu telah menjadi bayangan nyata detengah guratan jingga.
Langit mulai melukis senyum cerah secerah mentari yang mengamatinya di ujung ranting. Guratan senja yang masih sesekali melintas di benaknya tak lagi ia hiraukan. Langkahnya semakin tegak menata masa depan. Badai yang menerpa jiwanya belum berlalu, hanya saja pergi dan tak tau kapan akan kembali.